Tadinya buat lomba… tapi…?? “Rendang Mahasiswa”

Standard

Dunia perkuliahan, dunia yang syarat dengan dinamika latar belakang orang yang berjuang didalamnya. Perjuangan ini akan dialami baik dia perantau atau pun seorang putra daerah tempat dia berkuliah. Dengan berbekal pesan dari orang tua dirumah, seorang anak berangkat dengan semangat menuju rantauannya untuk menuntut ilmu. Tak elak jika kerinduan akan segala hal yang ika ukir dikampung halaman sering kali terbersit dalam lamunannya saat ia menatap ke langit.

Nah, disini ada Firdaus, seorang mahasiswa tingkat persiapan bersama yang berumur 20 tahun berasal dari Jakarta, harus menunggu giliran saat ia berbaris mengantri untuk dipanggil panitia penerimaan mahasiswa baru di universitas yang ia dambakan, bertempat di Bogor. Antrian panjang membuat si Firdaus merasa bosan dan mulai melirik lirik ke sekelilingnya, dalam hati berkicau “Ada makanan apaan nih yang enak?”. Bermodal uang 50 ribu yang dibekali orang tua untuk mengurus segala keperluan pendaftaran, ia pun nekat untuk pergi ke tempat makan dengan maksud mengisi kekosongan perutnya. Jarak 2 meter dari pintu masuk, langsung dia “tongkrongin” rumah makan padang. “Alhamdulillah, tempat ini kayaknya murah meriah, hehe..”

Biasanya, rumah makan padang di Jakarta mahal mahal, itu yang ada dalam pikirannya. Tapi, karena dia pikir di Bogor ini tempatnya masih ndeso makanya dia berani. Dia pesan menu yang paling membuat perutnya yang mulai bersenandung, RENDANG BUMBU CABE, ditambah kuah kuah yang gratis.

Hampir 1 jam ia di tempat makan itu, seakan lupa dengan urusannya yang harus mengurus pendaftarannya di loket. Melihat jam yang tinggal beberapa menit lagi antrian ditutup, bergegas ia menuju antrian yang sudah tinggal sedikit orang untuk menyelesaikan administrasi. Setelahnya, semua mahasiswa baru langsung diantar menuju asrama, untuk memulai kehidupannya di kampus tercinta.

Firdaus mendapatkan asrama yang paling jauh dari asrama lainnya. Dalam pikirannya, merasa kesal dan jenuh, soalnya jauh dari tempat makan yang unik unik di daerah yang namanya Dadakan Raya, posisinya di dekat pintu masuk utama. Asramanya besar dan kamarnya pun cukup luas, di satu sisi Firdaus merasa bersyukur karena asrama ini paling luas diantara asrama lainnya.

Dian, nama mahasiswa yang sekamar dengan nya dengan satu orang lagi yang ia tak sempat melihat namanya di papan pengumuman asrama. Tanpa pikir panjang, Firdaus langsung memasukan tas besarnya yang berat itu kemudian langsung merapihkan kamar dan menyusun kamarnya. Tiba tiba masuk seorang laki laki, menyapa dan menyusun kasurnya. Firdaus pun terbingung, secara spontan ia memanggilnya dengan nama Dian. Ups, ternyata bukan, ia adalah Ahmad, mahasiswa dari Jawa Tengah yang juga sekamar dengan Firdaus dan Dian. Mereka langsung akrab satu sama lain dengan obrolan ringan sambil membesihkan meja belajar yang hampir usang, layu dipakai angkatan sebelumnya yang menempati asrama selama 1 tahun. Seharian mereka sibuk dalam mengurus kamar baru mereka, tak peduli lagi apakah baju masih bersih atau sudah kotor, keringat yang sudah “mengasam” pun tak dihirakan. Diakhir sore, penjaga asrama yang terlihat bijak memanggil semua penghuni asrama baru untuk memberikan beberapa pengumuman terkait kuliah yang akan mereka jalani esok hari. Masing masing penghuni asrama ini memiliki jurusan yang berbeda. Firdaus sendiri adalah jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Hari pertama Firdaus dan Ahmad saling berkenalan dan menggali informasi masing masing. Sebelumnya mereka heran mengapa hanya berdua saja dikamar ini, tanpa banyak bertanya tentang Dian yang tak kunjung hadir di kamar itu. Selang beberapa menit, penjaga asrama menginfokan kepada mereka bahwa Dian akan datang besok sore bersama Orang tuanya, karena terjebak diperjalanan jauh. Belum sempat bertanya asal dari Dian, penjaga asrama sudah pergi.

Hari pertama mulai perkuliahan, Firdaus sangat disibukan oleh perlengkapan yang harus ia beli dan ia buat. Belum lagi ia harus menyelesaikan tugas harian yang diberikan sang dosen. Sekilas teringat pesan orang tuanya, “kerjakan sesuatu itu dari hati mu nak!, Ikhlas karena Allah, maka manfaat yang akan kau dapat.”, perkataan itu seakan menjadi pelecut bagi Firdaus. Ketika lewat di Dadakan Raya, ia sempetin aja makan orek tempe dan telor dadar buat makan siang. Jarak 4 meter dari rumah makan Takana Jou Murah Meriah, tempat makanan padang favorit di Dadakan Raya, Firdaus di SMS Ahmad yang pesannya agar membelikannya makanan berupa RENDANG TAHU. Awalnya Firdaus heran, sepengetahuan dia yang namanya rending itu ya daging, tapi yang diminta Ahmad adalah rendang tahu. Modal penasaran, akhirnya Firdaus masuk ke Takana Jou itu, langsung lah dipesan RENDANG TAHU. Firdaus terkaget karena pelayan rumah makan itu langsung membungkus makanan yang diminta Ahmad, makin heran dia, ternyata ada ya rendang tahu?

 Sampainya di asrama, Firdaus langsung memberikan pesanannya kepada Ahmad. “Us, kenalin Dian nih,dari Sumatera Barat, Uda Padanag kita, hehe.” Terkaget melihat kawan barunya itu, Firdaus sampai terlupa kalau sepatunya yang kotor belum dibuka saat masuk kamar, alhasil Ahmad pun marah marah dengan kelakuannya walaupun akhirnya kata terima kasih terlontar dari mulutnya karena sudah dibelikan rendang tahu pesanananya.  Firdaus tergolong cepat dalam berkenalan dengan orang, makin sore ia makin akrab dengan Dian. Dian adalah mahasiswa kelahiran padang yang merantau ke bogor, namun Firdaus juga diceritakan tentang neneknya yang sangat ahli dalam memasak rendang, dan sekarang menetap di Jakarta. Semakin membuat Firdaus kaget adalah tempat tinggal nenek Dian yang handal memasak rendang itu tak jauh dari rumahnya di Jakarta.

Berhari hari sudah dilewati Firdaus, Ahmad, dan Dian dalam keakraban persahabatan. Banyak hal yang Firdaus dapatkan selama perkuliahan yang ia jalankan di jurusannya. Firdaus mempelajari teknik dalam pengawetan makanan, kemudian mempelajari pengemasan makanan, kemudian terkait kebersihan lingkungan dalam proses pembuatan makanan, dan sampai ke bagian terkecil yaitu bagian komponen makanan yang membuat makanan enak dan layak dimakan. Sampai menjelang akhir ujian semester, Dian mengajak Firdaus dan juga Ahmad untuk berkunjung ke rumah neneknya yang ahli dalam memasak rendang itu. Alangkah senang hati Firdaus dan Ahmad, dalam benaknya mereka yakin akan diperlihatkan cara membuat rendang yang enak dan gurih.

Dian termasuk dari keluarga yang cukup mapan. Keberangkatan mereka dari asrama menuju Jakarta menggunakan mobil milik keluarga Dian yang terdapat supir, sehingga mereka bisa leluasa meningmati perjalan sambil melihat indahnya Jakarta. Selang perjalanan 2,5 jam, mereka sampai di rumah nenek Dian yang megah dan besar. Penjagaan beberapa orang di pos satpam menggambarkan amannya keadaan di dalam rumah. Parkiran yang luas, terdapat taman yang ditengannya ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya.

“Silahkan masuk,ayo Dian ajak teman temannya masuk ke dalam. Boleh istirahat dulu, terus kita makan bersama ya!”, sapaan awal yang membuat Firdaus dan Ahmad tersenyum lebar. Maklum, sebagai mahasiswa, mereka sangat harus dan wajib mengatur pengeluaran mereka. Tentu saja “makan gratis” membuat mereka senang bukan kepalang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s